“Behind the Scene” (1):
Tingkah Laku Para Presiden Indonesia
Dari Soekarno Sampai SBY : Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa” karya Prof. Dr. Tjipta Lesmana, MA.
Suatu ketika, pada era pemerintahan Gus Dur, Laksamana Sukardi (Menteri
Negera Badan Urusan Negara) ikut serta dalam kunjungan kenegaraan ke Eropa
dan Asia. Jadwal Presiden sangat ketat sehingga membuatnya teler. Para
anggota rombongan pun kelelahan luar biasa.
Di Seoul, Gus Dur menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Korea.
Kedua pemimpin negara duduk berdampingan. Perdana Menteri Korea berbicara
kalimat demi kalimat yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Rupanya,
karena sangat lelah dan tidak menarik mendengarkan terjemahan, Gus Dur
tertidur.
Pada salah satu bagian, PM Korea berujar, ”Mr President, we have an excelent
nuclear technology for power plant. If you are interested, we would be happy to
have it for you. (Tuan Presiden, kami memiliki teknologi nuklir yang canggih
untuk pembangkit tenaga. Kalau Anda berminat, kami bisa mengusahakannya
untuk Anda),” Pemerintah Korea menawarkan bantuan teknologi nuklir untuk
pembangkit listrik Indonesia.
Saat itu, Gus Dur tidur pulas sekali. Selesai pernyataan itu diterjemahkan dalam
bahasa Inggris, PM Korea menoleh ke arah Gus Dur menunggu jawaban.
Namun, tidak ada jawaban. Laksamana cepat-cepat membangunkan Gus Dur.
“Gus… Gus… bangun! Gus… dia tanya apakah kita interested dengan power
plant technology yang dia punya.”
Gus Dur karena baru terbangun dari tidurnya dan belum berkonsentrasi
langsung nyeplos, “My Minister ask about your nuclear technology…! (Menteri
saya bertanya tentang teknologi nuklir yang Anda miliki),”
Laksamana geli bercampur malu. Anggota rombongan pun tersipu-sipu, tidak
berani melihat wajah PM Korea. “Kita semua malu. Merah muka kita di hadapan
Perdana Menteri Korea,” tutur Laksamana.
Demikian salah satu cerita yang terungkap dalam buku Dari Soekarno sampai
SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa karya Prof Dr Tjipta Lesmana, MA.
Buku yang baru diluncurkan Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada
pertengahan bulan November menguak pola komunikasi politik enam presiden
yang pernah memimpin Indonesia, dari Soekarno hingga Susilo Bambang
Yudhoyono. Tjipta melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Ia
melakukan wawancara secara mendalam dengan 25 orang yang dekat dengan
keenam presiden itu.
Sebagian besar informan adalah mantan menteri sehingga mereka sering
berkomunikasi dengan Presiden. Dari pengalaman berinteraksi itulah mereka
bercerita dan memaparkan apa saja yang diketahuinya tentang komunikasi
politik sang presiden dan kesan mereka terhadap kepemimpinan presiden
tersebut.
Buku setebal 396 halaman itu mengungkap gaya komunikasi para presiden
Indonesia dalam beragam kondisi. Soekarno digambarkan sebagai sosok yang
banyak bicara dengan bahasa lugas, tanpa tedeng aling-aling. Sementara itu,
gaya Soeharto berada di ekstrem yang lain, hight context, para pembantunya
harus pintar memahami yang tersirat di balik yang tersurat, plus memahami
senyumnya yang multitafsir.
Habibie digambarkan sebagai pribadi yang terbuka, tetapi terkesan mau menang
sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap kritik. Abdurrahman Wahid atau
Gus Dur juga memiliki gaya yang sangat terbuka, demokratis, tapi cenderung
diktator. Gus Dur sangat impulsif. Ia bisa tertawa terbahak, tetapi bisa juga
menggebrak meja sekerasnya di depan komunikannya.
Megawati lain lagi. Meski dipandang cukup demokratis, pribadi Megawati dinilai
tertutup dan cepat emosional. Ia alergi pada kritik. Komunikasinya didominasi
oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris tidak pernah menyentuh visi misi
pemerintahannya. Dan, tanpa diragukan lagi, tulis Tjipta, Megawati adalah
seorang pendendam.
Selanjutnya, Susilo Bambang Yudhoyono digambarkan sebagai sosok yang
demokratis, menghargai perbedaan pendapat, tetapi selalu defensif terhadap
kritik. Hanya, sayang, konsistensi Yudhoyono dinilai buruk. Ia dipandang sering
berubah-ubah dan membingungkan publik.
Yang menarik dari buku ini adalah semua analisis ditarik berdasarkan kisah-
kisah kecil interaksi sehari-hari antara presiden dan para menterinya. Sebagian
kisah itu tak pernah muncul ke publik sebelumnya.
“Behind the Scene” (2):
Megawati Lebih Antusias Bicara Soal “Shopping”
Megawati Soekarnoputri adalah Presiden Indonesia kelima. Bisa disebut ia
adalah Presiden Indonesia paling pendiam. Putri Bung Karno ini sepertinya
seorang pengikut fanatik pepatah kuno “Silence is Gold”. Tapi, diamnya
Megawati seringkali kelewatan. Ia tetap tak bersuara bahkan ketika negeri ini
membutuhkan kejelasan sikapnya. Sampai-sampai (Alm) Roeslam Abdulgani,
tokoh pejuang 45, berseru, “Megawati bicaralah sebagai Presiden!”
Kenapa Megawati lebih banyak diam?
Tjipta Lesmana dalam bukunya “Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi
Politik Para Penguasa” mengisahkan, pada suatu hari, saat masih menjabat
sebagai Presiden, Megawati Soekarnoputri tampak tengah berbincang lama
sekali dengan seorang menterinya di kediaman resminya, di Jl Teuku Umar,
Jakarta. Sementara perbincangan berlangsung, seorang pembantu dekatnya
yang lain menunggu dengan gelisah. Pasalnya, ia sudah menunggu lama lewat
dari waktu yang dijanjikan untuk bertemu.
Usai pembicaraan Megawati dengan menterinya, pembantu ini bertanya kepada
si Menteri. “Lama amat sih kamu ngobrolnya. Apa saja sih yang dibahas?”
”Enggak ada, Mas. Kita ngobrol hal-hal lain yang enggak ada kaitannya dengan
negara!” jawab Sang Menteri sambil tertawa lebar (hal. 272).
Itulah Megawati. Berdasarkan penuturan Laksamana Sukardi, mantan menteri
negara Badan Usaha Milik Negara, jika berdiskusi dengan pembantunya, lebih
sering soal-soal ringan seperti masakan, tanaman, dan shopping. Pembicaraan
dengan topik itu bisa membuat diskusi dengan Megawati berlangsung lama.
Tapi, jika sudah menyentuh soal pekerjaan atau negara, daya fokusnya sangat
terbatas. Konsentrasinya kurang cukup untuk terus menerus fokus ke
permasalahan. Hal ini menimbulkan kesan Megawati orang yang tidak mau repot
dalam mengurus negara.
Mantan pentiggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang kini hengkang dan
mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan, Roy BB Janis, menuturkan dalam
buku itu, dalam sidang kabinet Megawati biasanya lebih banyak diam. Kalaupun
angkat suara fungsinya hanya sebagai pengatur lalu lintas. Kalau ada dua
menteri saling berdebat di sidang kabinet, Megawati hanya menonton, jarang
memberikan pendapatnya sendiri atau menengahi keduanya, meski perdebatan
sudah berada pada tingkat ‘panas’.
Ada cukilan kisah menarik tentang diamnya Megawati. Menjelang tutup tahun
2002 aksi-aksi unjuk rasa anti pemerintah, terutama dilancarkan mahasiswa,
menunjukkan eskalasi yang tinggi. Aksi ini menyusul kebijakan pemerintah
menaikkan harga BBM dan tarif dasar listrik. Di tengah ingar bingar unjuk rasa
itu, beredarlah rumor yang menyebutkan ada pihak-pihak tertentu yang sengaja
mengompori rangkaian unjuk rasa itu.
Sebagai orang yang ikut bertanggung jawab atas stabilitas pemerintah,
Hendropriyono (Kepala Badan Intelijen Negara), Susilo Bambang Yudhoyono
(Menteri Koordinator Politik dan Kemanan), dan Da’i Bachtiar (Kapolri), rupanya
terus memeras otak untuk mencari tahu siapa dalang aksi-aksi ini. Lantas, dalam
rapat kabinet tanggal 20 Januari 2003, muncul empat nama yang disebut-sebut
sebagai pihak yang berada di belakang aksi unjuk rasa. Mereka adalah Jenderal
Wiranto, Fuad Bawazier, Adi Sasono, dan Eros Djarot.
Tentang Fuad Bawazier, memang diketahui lama adalah mitra bisnis Rini
Suwandi yang kala itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan
dalam kabinet Megawati. Kemitraan mereka terjadi jauh sebelum Rini menjadi
menteri.
Suatu hari bertemulah Hendropriyono dan Rini Suwandi di kediaman Megawati
di Jl Teuku Umar. Hendro menegur keras Rini soal sepak terjang Fuad. Kata-
kata Hendro meluncur tanpa tedeng aling-aling. Teguran itu begitu menyakitkan
Rini hingga ia menangis sambil memeluk Megawati. Apa reaksi Presiden?
Megawati hanya tersenyum menyaksikan adegan perang mulut antara dua
pembantu dekatnya (hal. 276).
Pendendam
Semua orang mafhum, hingga detik ini Megawati emoh bertemu dengan Susilo
Bambang Yudhoyono, Presiden berkuasa yang notabene adalah mantan
pembantunya di kabinet. Dalam upacara kenegaraan memperingati ulang tahun
kemerdekaan Indonesia ke-63, 17 Agustus, tahun ini, Megawati tidak hadir.
Ketidakhadirannya diyakini karena faktor Yudhoyono sebagai Presiden.
Tjipta menulis, “di mata Megawati, Susilo Bambang Yuhoyono (SBY) tidak lebih
seorang pengkhianat, bahkan seorang Brutus yang sadis,” (hal.303). Ini semua
karena sikap “diam-diam” SBY yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada
Pemilu 2004. SBY dinilai tidak jantan. Beberapa kali Megawati bertanya kepada
SBY apakah akan maju dalam Pemilu 2004. Dengan diplomatis SBY menjawab,
“Belum memikirkan soal itu, Bu. Saya masih konsentrasi dengan tugas selaku
Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.” (hal. 288).
Namun, Megawati dan kubunya menaruh kecurigaan besar terhadap SBY dan
timnya. Perseteruan di balik selimut pun terjadi. Terungkap ke publik bahwa
Megawati mengucilkan SBY dari sidang-sidang kabinet. Sikap Megawati ini
menguntungkan SBY karena dengan itu SBY tampil di media sebagai korban
kezaliman Megawati.
12 Maret 2004 SBY mengirimkan surat pengunduran diri dari kabinet. Dua hari
kemudian ia terbang ke Banyuwangi, berkampanye untuk Partai Demokrat. Pada
putaran kedua pemilu 2004 SBY menang gemilang dalam pemungutan suara.
Megawati sedih dan menangis.
Semua orang tahu, saat pelantikan SBY di Gedung MPR pada 20 Oktober 2004
Megawati tidak hadir, padahal banyak orang dekat membujuknya datang. Semua
orang juga tahu, pagi itu Megawati bahkan tidak duduk di depan pesawat
televisinya, tapi sibuk berkebun.
Menurut penuturan Roy BB Janis, kegusaran dan kebencian Megawati
diartikulasikan dalam rapat DPP PDIP. “Kalau orang lain, Amien Rais Presiden,
Wiranto Presiden, siapalah, saya datang. Tapi, kalau ini (SBY) saya enggak bisa,
karena dia menikam saya dari belakang,” begitu kata Megawati seperti ditirukan
Roy (hal.289).
“Behind the Scene” (3):
Gus Dur Menggebrak Meja Hingga Meraung-raung
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah presiden Indonesia ke-4. Masa
kepemimpinannya tidak lama, hanya 21 bulan (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001).
Ia dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dipimpin Amies Rais
dan digantikan Megawati Soekarnoputri.
Meski rentang kepemimpinannya paling singkat dalam sejarah Indonesia, namun
sepak terjangnya banyak menuai kontroversi. Manuver-manuvernya sulit
dipahami. Gayanya yang ceplas-ceplos menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Tjipta menyebut dalam bukunya “Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan Lobi
Politik Para Penguasa”, Gus Dur tidak bisa memisahkan statusnya sebagai kiai
dan Presiden Republik Indonesia. Statusnya sebagai kiai bahkan kerap lebih
menonjol daripada sebagai Kepala Negara. Akibatnya, komunikasi politik Gus
Dur kacau. Sebagai kiai Gus Dur adalah sosok yang terbuka terhadap siapa
saja, termasuk terbuka terhadap segala informasi yang dibisikan kepadanya.
Cilakanya, Gus Dur sering percaya begitu saja pada bisik-bisik orang tanpa
pernah lagi mengeceknya. Gara-gara bisik-bisik ini pula ada orang kehilangan
kesempatan emasnya berkarir di luar negeri.
Laksamana Sukardi, kala itu Menteri Negara Badan Urusan Milik Negara,
menuturkan dalam buku tersebut, suatu kali dipanggil Gus Dur ke istana. Gus
Dur menyampaikan, ada orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan
reputasi sangat baik. Ia masih muda dan pintar. Gus Dur ingin Laksamana
mencarikan posisi untuk orang itu. “Dia pintar sekali. Lalu dia mau ditarik ke New
York. Kan, sayang kalau ada anak muda yang pintar, masak kerja di luar negeri.
Tolong, deh,” ucap Gus Dur seperti ditirukan Laksamana.
Tak lama setelah hari itu, Laksamana kembali menghadap Gus Dur. Ada posisi
lowong sebagai direksi Indosat. “Gus, ingat enggak ini orang, anak muda yang
tempo hari Gus titipkan ke saya? Dia lebih cocok di Indosat, Gus,” kata
Laksamana.
Gus Dur rupanya sudah lupa. Setelah berpikir agak lama, tiba-tiba ia menjawab
lantang,”Enggak bisa itu orang!”
“Lho, kenapa, Gus?!” Laksamana terperanjat.
”Dia bawa lari isteri orang.”
Laksamana kaget setengah mati. Pasalnya, ia sudah menyuruh orang itu keluar
dari perusahaan tempatnya bekerja, bahkan diminta secepatnya keluar karena
ada perintah Presiden. Orang itupun sudah ada di Indonesia. Laksamana
kemudian meminta orang itu menghadap ke kantornya.
”Mas, kok Gus Dur bilang kamu bawa lari isteri orang?” tanya Laksamana.
”Demi Allah, Pak! Saya masih dengan isteri saya yang sekarang,” jawab orang
itu.
Usut punya usut, ternyata Gus Dur mendapat bisikan dari orang tertentu tentang
anak muda ini. Dan, faktanya bisikan itu tidak benar. Anak muda bergelar PhD ini
akhirnya bekerja di sebuah bank swasta. Laksamana merasa kasihan.
Bagaimana tidak! Karirnya di perusahaan luar negeri itu sudah bagus, tapi gara-
gara seorang pembisik nasibnya jadi kacau balau (hal. 207).
Gus Dur menangis meraung-raung
Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang emosional. Bila marah, ia bisa
menggebrak meja dan kata-kata keras meluncur dari mulutnya. Salah seorang
mantan menteri yang tidak bersedia disebutkan namanya menuturkan, ia pernah
dimarahi habis-habisan. Ceritanya begini:
Ada seorang kerabat Gus Dur duduk dalam pemerintahan. Sebut saja namanya
XZ. Gus Dur sebenarnya tidak pernah mengangkat XZ. Namun, seorang
pimpinan salah satu instansi pemerintah mengangkat XZ sebagai pejabat eselon
1. Mungkin, orang itu berpikir dengan mengangkat kerabat Gus Dur karirnya
akan jadi lebih baik mengingat kedekatan XZ dengan Gus Dur.
Namun, sebagai pejabat eselon 1, XZ diketahui kerap “memeras” sejumlah
konglomerat keturunan Tionghoa. Para pengusaha ini mendapat semacam
“bantuan” tapi dengan imbalan yang sangat besar.
Sang menteri tersebut, sebut saja AB, melaporkan perilaku XZ kepada Gus Dur.
Gus Dur marah. AB dicaci maki Gus Dur karena Gus Dur tidak memercayai
laporan AB.
Beberapa hari kemudian, AB dipanggil Gus Dur ke istana. Pertemuan empat
mata. Begitu masuk ke ruang kerja Gus Dur, AB melihat Gus Dur menangis
meraung-raung. Ia tampak dilanda kesedihan luar biasa. Lama Gus Dur tidak
bisa bicara, hanya menangis dan menangis.
AB bingung, tidak tahu apa yang sedang dialami Gus Dur. Ia berusaha
menenangkan Gus Dur. “Gus, tenang, Gus. Tenang, Gus! Ada masalah apa?”
ucapnya sambil mengusapi dan memijat-mijat tangan Gus Dur. Sesaat
kemudian, Gus Dur berusaha menguasai dirinya, sebelum akhirnya membuka
suara.
Intinya, ia mengakui kebenaran informasi tentang perilaku XZ yang pernah
disampaikan AB. “Saya malu! Sangat malu! Ternyata, apa yang kamu laporkan
kepada saya memang benar semua! Kurang ajar dia!” ujar Gus Dur (hal. 225).
Sejak saat itu, dan selama setahun lebih, Gus Dur tidak pernah menyapa XZ.
“Behind the Scene” (4):
Habibie, Presiden Pintar yang Tidak Pernah Mau Kalah
Meski sekian lama menjadi bagian dari masa pemerintahan Soeharto dan
menganggap Soeharto adalah guru sekaligus bapaknya, namun gaya
kepemimpinan Habibie jauh bertolak belakang dengan orang yang dihormatinya
itu. Muladi, mantan Menteri Kehakiman di era Orde Baru menuturkan, sidang
kabinet yang dipimpin Soeharto selalu berlangsung dalam suasana mencekam.
Para menteri takut angkat tangan mengajukan diri untuk bicara. Sementara di
zaman Habibie, para menteri justru berebut mengacungkan jari. Muladi
menggambarkan, susana sidang kabinet seperti sebuah seminar: riuh, panas,
kadang gebrak-gebrak meja seperti mau kelahi.
Habibie sendiri yang merangsang suasana seperti itu karena dia memang
senang berdebat. Semakin didebat ia semakin bersemangat. Karena semua
menteri boleh bicara dan perdebatan dibuka seluas-luasnya sebelum diambil
keputusan, sidang kabinet bisa berlangsung sampai larut malam.
Habibie, menurut Tjipta dala bukunya “Dari Soekarno Sampai SBY: Intrik dan
Lobi Politik Para Penguasa”, adalah seorang extrovert. Gaya komunikasinya
penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau memikirkan
risikonya. Tatkala Habibie dalam situasi penuh emosional, ia cenderung
bertindak atau mengambil keputusan secara cepat. Seolah ia kehilangan
kesabaran untuk menurunkan amarahnya. Bertindak cepat, rupanya, salah satu
solusi untuk menurunkan tensinya. Karakteristik ini diilustrasikan dengan kisah
lepasnya Timor Timur dari Indonesia.
Semua orang terkejut, terutama Almarhum Ali Alatas yang kala itu menjabat
sebagai Menteri Luar Negeri, ketika Habibie tiba-tiba mengumumkan kepada
dunia internasional tentang pemberian opsi kepada rakyat Timor Timur: tetap
bergabung dengan Indonesia atau melepaskan diri sebagai negara merdeka.
Tjipta menganalisa, biang keladi dari keputusan besar ini adalah sepucuk surat
Perdana Menteri Astralia kala itu, John Howard, yang ditujukan pada Habibie
pada Desember 1998. Menurut penuturan Juwono Soedarsono, Habibie marah
membaca isi surat Howard yang meminta Indonesia mempertimbangkan hak
politik rakyat Timor Timur untuk menyatakan penentuan nasib sendiri.
Habibie merasa surat itu seperti tantangan sekaligus kritik terhadap pemerintah
Indonesia. “Karena Habibie mempunyai tabiat tidak mau kalah dengan siapapun
maka tantangan itupun secara spontan dijawab,” tulis Tjipta.
Dalam sidang kabinet 27 Januari 1999 kebijakan pemberian opsi ini
dipertanyakan oleh Hendropriyono yang kala itu menjabat sebagai Menteri
Transmigrasi. “Kalau plebisit kalah, bagaimana? Siapa bertanggung jawab? Ini
kan nanti akan terjadi eksodus, eksodus dari para transmigran yang sudah 25
tahun di sana. Siapa yang bertanggung jawab?” cecar Hendro seperti ditulis
dalam buku itu.
Habibie dengan sigap menjawab,”Saya bertanggung jawab.”
Fahmi Idris, Menteri Tenaga kerja, segera menimpali,”Tanggung jawab apa,
Presiden?”
Wajah Habibie tampak merah. Seorang menteri dari Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia (ICMI) lantas menengahi situasi panas ini. (halaman 154)
Bagaimana dengan SBY?
Selanjutnya, bagaimana dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? Tjipta
menilai, SBY adalah sosok yang perfeksionis. Ia selalu tampil rapi dengan tutur
kata yang tertata. SBY pasti sadar bahwa ia seorang pria yang dikaruniai Tuhan
dengan wajah cukup ganteng. Dan, ia betul-betul memanfaatkan
ketampanannya setiap kali tampil di depan pers. Seolah kegantengannya dan
penampilannya yang dandy merupakan daya tarik tersendiri yang harus selalu
‘dijual’ kepada publik setiap kali ia tampil.
”Pakaian yang dikenakan –apakah berupa setelan jas atau batik- selalu
berkualitas No. 1 dengan warna, motif, dan ukuran mantap, mencerminkan
seleranya berbusana yang tinggi. Ketika itu ia mungkin lebih pas diberikan
predikat sebagai ‘foto model’ atau ‘aktor’ daripada seorang ‘kepala negara’,” tulis
Tjipta.
Sebagai seorang perfeksionis, lanjut Tjipta, SBY selalu berusaha berkomunikasi
dengan bahasa tubuh dan verbal yang sempurna. Namun, gaya bahasanya
seringkali high-context, cenderung berputar-putar, terutama ketika ia belum siap
dengan keputusannya.
Sayang, tidak banyak hal tersembunyi yang terungkap dalam analisis terhadap
gaya komunikasi politik SBY. Tjipta banyak menggunakan contoh dari
pemberitaan di media massa. Mungkin para pembantunya belum ada yang
berani bicara terbuka karena Bapak Presiden masih berkuasa.
(Selesai)